Muslimdaily.net – Kesempatan kerja semakin sempit.
Pertumbuhan lapangan kerja tak sebanding dengan jumlah lulusan perguruan
tinggi. Para sarjana yang sebulan lalu di wisuda dengan gagahnya,
mengantri panjang dan berpanas-panasan dalam setiap bursa tenaga kerja
yang digelar.
Betul jika ekonomi syariah hadir sebagai solusi atas kekacauan
ekonomi global. Benar bahwa ekonomi syariah datang membawa
kemashlahatan. Setuju memang ekonomi syariah menjanjikan keadilan dan
distribusi pendapatan.
Di luar fakta bahwa sistem bagi hasil lebih adil dari riba yang
menjerat, di samping kenyataan bahwa zakat dan wakaf sebagai instrument
pemberdayaan ekonomi umat, ekonomi syariah tanpa disadari hadir membawa
secercah harapan baru dalam berkarir. Tumbuhnya industri keuangan
syariah dan kesadaran masyarakat akan kehalalan dalam bermuamalah
menciptakan ladang garapan baru untuk berkarya.
Tak perlu lagi berkeluh kesah, tak usah lagi berharap cemas.
Kekhawatiran akan pengangguran seharusnya tak lagi menghantui. Ekonomi
syariah hadir dengan sejuta pilihan karir untuk ditekuni.
Akademisi
Menurut penelitian Suroso Imam Zadjuli (Guru Besar Universitas
Airlangga, dalam jangka menengah sampai 5 tahun mendatang diperlukan
sebanyak 38.940 orang lulusan D3 sampai Doktor bidang ekonomi syariah.
Sedangkan dalam jangka panjang antara 10-30 tahun mendatang SDM yang
dibutuhkan sebanyak 125.790 orang lulusan D3 sampai Doktor. Untuk
mencapai tujuan ini, diperlukan minimal 10 perguruan tinggi yang membuka
program doktor ekonomi Islam. Sedangkan di Indonesia belum ada
universitas yang membuka program ini. Hal ini dikarenakan masih
jarangnya akademisi yang fokus di bidang ekonomi syariah.
Data tersebut mengindikasikan masih lebarnya peluang untuk berkarir sebagai akademisi di bidang ilmu keuangan syariah.
Bagaikan efek bola salju, kehadiran para doktor di bidang ilmu ekonomi
syariah akan mempercepat penyediaan SDM syariah dari level Ahli Madya
sampai Magister.
Profesional Industri
Bambang Brodjonegoro (Wakil Menteri Keuangan dan Ketua Umum DPP IAEI)
menyebutkan dalam kata sambutannya di acara Forum Riset Ekonomi dan
Keuangan Syariah (FREKS) 13 November 2013 lalu bahwa industri perbankan
syariah tumbuh hampir 50% setiap tahunnya. Selain itu, aset lembaga
keuangan syariah non-bank tercatat sebesar 1274 Triliun Rupiah.
Berkembangnya industri keuangan syariah merupakan pertanda bahwa semakin
banyaknya SDM berkualitas yang bisa mengisi pada posisi-posisi dari
mulai level manajerial sampai klerikal.
Menurut ketua umum ASBISINDO (Asosiasi Bank Syariah Indonesia),
Yuslam Fauzi, kebutuhan terhadap SDM perbankan syariah rata-rata 11.000
orang per tahun. Sedangkan perguruan tinggi di Indonesia baru bisa
menghasilkan lulusan bidang ekonomi dan keuangan syariah sekitar 3.750
orang per tahun. Terjadinya jurang kebutuhan SDM Syariah ini dikarenakan
masih kurangnya jumlah perguruan tinggi yang membuka program studi
ekonomi maupun keuangan syariah. Tercatat sampai tahun 2012 baru ada 20
perguruan tinggi dalam negeri yang membuka program studi ekonomi dan
keuangan syariah. Lulusan perguruan tinggi ekonomi syariah yang memiliki
keterampilan serta integritas yang baik sangat mendesak dibutuhkan
mengingat sebanyak 90% tenaga kerja di bank syariah tidak memiliki latar
belakang pendidikan ekonomi syariah.
Oleh karena itu, bagi yang ingin menekuni karir sebagai professional
di industri keuangan syariah ada kabar baik bahwa kesempatan tersebut
masih terbuka lebar.
Islamic Financial Planner
Di samping akademisi dan professional industri, ada sebuah profesi
dalam bidang ekonomi syariah yang memiliki tugas khusus. Tugas khusus
yang bertujuan mengedukasi masyarakat dan orang awam untuk mengurangi
sifat konsumtif. Amanah untuk senantiasa memberikan masukan dan berbagai
macam pilihan yang syariah dalam berinvestasi. Profesi yang membimbing
masyarakat untuk bisa terlepas dari hutang konsumtif. Peran yang
mengarahkan seorang ibu bagaimana mengelola uang bulanan dari suaminya
agar ekonomi keluarga berlangsung sejahtera. Sosok yang memberikan
pandangan bagi keluarga muda agar bisa menyekolahkan anak mereka kelak
sesuai dengan cita, yang dibutuhkan oleh para orang tua untuk
mempersiapkan masa pensiunan mereka dan diharapkan oleh si kaya untuk
memberikan saran terbaiknya dalam mengelola hartanya.
Sebuah penelitian baru mengungkapkan bahwa kebanyakan orang Indonesia
memiliki perilaku konsumtif dalam pembelian smartphone dan tablet.
Berdasarkan data survei dari Cisco Visual Networking Index (VNI)
Forecast, akan ada 370 juta pembelian ponsel atau komputer tablet yang
dilakukan oleh warga Indonesia pada 2017
Hasil survei Indeks Kepercayaan Konsumen kuartal I/2013 yang
diselenggarakan Nielsen di 58 negara pada Februari hingga awal Maret
2013 kembali menempatkan Indonesia ke posisi teratas negara yang
penduduknya paling optimistis dalam memanfaatkan uang.
Head of Wealth Management HSBC Indonesia Steven Suryana mengungkapkan
tingkatkan kesadaran investasi masyarakat Indonesia masih jauh
tertinggal jika dibandingkan dengan beberapa negara, seperti China.
Masyarakat Indonesia yang masih belum sadar berinvestasi, kebiasaan
berhutang di masyarakat kelas menengah ke bawah, ketagihan kredit
konsumtif, biaya pendidikan yang semakin mahal, maka dibutuhkan jasa
konsultasi keuangan. Profesi ini masih sangat langka di Indonesia. Belum
banyak pemainnya. Akan tetapi, peluang menjanjikan profesi Islamic Financial planner ini mulai tercium dari saat ini. Masih banyak waktu untuk mempersiapkan. Profesi ini akan banyak dicari.
Penulis Buku Ekonomi Syariah
Proses percepatan pembangunan SDM keuangan syariah tidak akan
berjalan dengan lancar tanpa fasilitas penunjang. Diantara fasilitas
penunjang dalam pembangunan SDM tersebut adalah industri penulisan dan
penerbitan buku-buku ekonomi syariah. Berdasarkan survey yang dilakukan
oleh mahasiswa STEI TAZKIA, sebanyak 74% mahasiswa merasa ketersediaan
buku-buku ekonomi syariah kurang memadai.
Selain kurangnya buku-buku teori atau akademis, buku ilmiah popular
yang mengulas tentang prinsip-prinsip ekonomi syariah pun belum banyak
ditemukan di toko-toko buku terkenal. Melihat realita ini, ada
kesempatan yang terbentang luas bagi siapapun yang ingin berkarir dalam
bidang kepenulisan dan penerbitan buku-buku ekonomi syariah teoritis untuk bahan pembelajaran serta buku yang bersifat popular untuk dibaca oleh masyarakat awam.
Dewan Pengawas Syariah
Bagi para lulusan ekonomi syariah yang tertarik untuk mendalami ilmu
syariah seperti Fiqih, Ushul Fiqih, Bahasa Arab, Qawaid Fiqhiyyah dan
sebagainya juga memiliki ruang tersendiri untuk menekuni karirnya
sebagai Dewan Pengawas Syariah. Dewan Pengawas Syariah (DPS) adalah
badan independen yang ditempatkan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) pada
perbankan dan lembaga keuangan syariah.
Wakil Ketua Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI)
Adiwarman Karim mengungkapkan, saat ini DPS yang sudah bersertifikat
baru sebatas DPS untuk perbankan dan asuransi. DPS yang sudah
tersertifikasi untuk perbankan dan asuransi pun masih minim jumlahnya.
Dia mengungkapkan, total DPS yang tercatat di DSN MUI sebanyak 236
orang. Dari jumlah tersebut, yang tersertifikasi untuk perbankan dan
asuransi pun masih minim jumlahnya. DPS yang sudah tersertifikasi untuk
perbankan baru 167 orang dan 40 DPS untuk asuransi syariah.
Filantropi Islam
Kesempatan untuk berkarir di dunia ekonomi syariah tidak hanya
terbatas pada industri keuangan syariah saja akan. Para lulusan
perguruan tinggi yang tertarik dengan dunia sociopreneur dapat
mendalami berbagai profesi atau keahlian dalam bidang filantropi seperti
Zakat Sedekah dan Wakaf. Pengelolaan zakat dan wakaf di Indonesia belum
semaksimal seperti di negara-negara muslim lainnya. Badan Amil Zakat
Nasional (Baznas) menyebutkan dari Rp 217 triliun potensi zakat di
Indonesia baru terserap dan dikelola oleh lembaga amil zakat sebesar Rp
2,73 triliun atau hanya sekitar satu persen (Repulika Online 29/04).
Salah satu sebab masyarakat menyalurkan zakat dan sedekahnya melalu Lembaga Amil Zakat (LAZ) adalah unsure trust atau
kepercayaan terhadap lembaga tersebut. Oleh karena itu, berbagai LAZ
mulai berlomba menciptakan program penghimpunan maupun pendayagunaan
zakat yang inovatif sehingga menarik bagi para muzakki.
Untuk menciptakan program penghimpunan maupun pendayagunaan yang
menarik minat masyarakat, diperlukan ide-ide yang segar dan kreatif.
Oleh karena itu, LAZ maupun BAZ sama-sama membutuhkan insane-insan yang
tertarik untuk menciptakan berbagai program pendayagunaan zakat.
Selain profesi sebagai amil zakat di lembaga zakat yang professional,
Nadzir wakaf yang professional juga sangat dibutuhkan untuk
mengembangkan potensi wakaf tunai dan wakaf produktif yang sedang
berkembang di Indonesia. Menjadi tugas para nadzir wakaf untuk
merumuskan suatu program wakaf produktif dan wakaf tunai ritel untuk
menjangkau masyarakat luas agar ikut berpartisipasi dalam wakaf tunai.
Media Ekonomi Syariah
Pertumbuhan industri keuangan syariah yang demikian menggurita serta
rasa penasaran masyarakat awam terhadap praktek ekonomi syariah dalam
kehidupan sehari-hari membutuhkan suatu media untuk ruang pembelajaran
ekonomi syariah. Sampai saat ini, media yang fokus menulis, memberitakan
dan menyiarkan ekonomi syariah masih dalam hitungan jari. Peluang ini
sangat menarik bagi mereka yang cermat membaca kebutuhan masyarakat
terhadap konten edukasi dan sosialisasi ekonomi syariah.
Menurut pakar ekonomi syariah Agustianto Mingka, idealnya dalam
setahun bisa dilakukan minimal 5 juta kali sosialisasi. Bentuk
sosilisasi ekonomi syariah sangat beragam dan luas, seperti melalui
media massa cetak atau elektronik, buletin, majalah, buku, lembaga
pendidikan, dan sebagainya
Dengan berbagai pilihan dan kesempatan karir untuk ditekuni, ekonomi
syariah seharusnya menjadi solusi bagi masyarakat untuk menciptakan
lapangan tenaga kerja yang baru. Masyarakat khususnya dalam hal ini
adalah para lulusan perguruan tinggi di Indonesia seharusnya memandang
ekonomi syariah sebagai suatu jalan yang harus ditempuh untuk berkarir
dan tumbuh menjadi pemimpin-pemimpin bangsa yang kini dirindukan
kehadirannya.
Puri Hukmi Lestari, SE.Sy – Praktisi Ekonomi Syariah

No comments:
Post a Comment